Rabu, 16 September 2015

PKI BANGKIT, BAHAYA MENGANCAM

PKI ( Partai Komunis Indonesia ) di awal kemunculannya sebelum kemerdekaan Indonesia disambut baik dan disanjung oleh rakyat Indonesia. Tetapi sebelum akhirnya Ir. Soekarno memberikan dukungan kepada PKI, Ir. Soekarno sempat mengutuknya karena peristiwa Madiun Affair. Madiun Affair adalah konflik kekerasan yang terjadi di Jawa Timur antara pemberontak komunis PKI dan TNI.
Hal ini di picu dengan adanya proklamasi berdirinya Negara Republik Soviet Indonesia oleh Muso dan Menteri Pertahanan saat itu Amir Syariffudin pada tanggal 18 September 1948. Tetapi 10 tahun kemudian Ir. Soekarno melindungi PKI karena ideologinya sejalan yaitu anti imperialisme atau anti barat. Bahkan oleh Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno dijadikan dasar Negara Indonesia dengan nama Nasakom. Sebenarnya banyak pihak yang tidak setuju dengan ide dari Ir.Soekarno tersebut. Karena sama saja Indonesia memproklamirkan diri sebagai bagian dari Blok Timur.
 Karena mendapat kepercayan penuh dari Ir. Soekarno. PKI pun memulai aksinya dengan penuh keyakinan. Sehingga PKI di Indonesia menjadi kekuatan yang mendominasi sejajar dengan kekuatan Presiden RI dan kekuatan TNI AD. Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia untuk menarik simpati lebih dari rakyat Indonesia PKI menunjukkan sikap radikal kepada pemerintahan Belanda sebagai bentuk anti penjajahan Belanda. Selain itu PKI dalam memulai pergerakannya di Indonesia selalu mengagung-agungkan bahwa ia adalah partai yang peduli rakyat yang tertindas.
 Tetapi hal itu tidak berlangsung lama apalagi setelah Indonesia merdeka. Karena setelah mendapatkan kepercayaan penuh dari rakyat. PKI pun masuk dalam pemerintahan. Banyak menteri-menteri di Kabinet Orde Lama Ir. Soekarno adalah kaki tangan dari PKI. Dan yang membuat miris adalah mayoritas kaki tangan PKI tersebut adalah orang-orang Indonesia, mereka merongrong keutuhan negaranya sendiri.
Kinerja PKI semakin lama sudah tidak mencerminkan sebagai pejuang aspirasi rakyat lagi. PKI hanya fokus bagaimana menerapkan ideologi mereka sepenuhnya di Indonesia tanpa ada yang menggugat mereka. Mereka pun mengeluarkan isu  bahwa Jenderal-Jenderal besar bekerja sama dengan pihak Amerika Serikat untuk mengkudeta pemerintahan.
Ir.Soekarno yang mendengar hal itu sudah pasti khawatir tetapi dengan sigap Panglima Besar TNI A.H. Nasution menjelaskan bahwa TNI tetap akan loyal kepada Presiden. Meyakinkan Ir.Soekarno bahwa TNI tumbuh dalam suasana memenuhi tuntutan perjuangan yang tidak pernah berhenti yang menjalankan fungsi pertahanan dan keamanan atas dasar tanggung jawab dari seluruh rakyat, bukan hanya dari kalangan intern tentara. Usaha PKI untuk menyingkirkan TNI tidak berhenti disitu bahkan mereka merencanakan kejahatan yang keji yaitu penculikan dan pembunuhan beberapa Jenderal Besar Angkatan Darat. Rencana tersebut dikomandoi oleh D.N Aidit. Dimana penculikan dan pembunuhan tersebut merupakan sebuah ironi karena menimpa orang-orang yang paling bertanggung jawab atas keselamatan negara. Penculikan tersebut serempak terhadap enam Jenderal Angkatan Darat, yaitu : Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal Suprapto, Mayor Jenderal Haryono M.T , Mayor Jenderal S Parman, Brigadir Jendreral Sutoyo Siswomiharjo, dan Brigadir Jenderal D.I Panjaitan.
Jenderal Besar A.H Nasution satu-satunya yang berhasil meloloskan diri tetapi putrinya Ade Irma Suryani dan ajudannya Pierre Tendean gugur dalam peristiwa yang memilukan itu. Peristiwa tersebut masih sangat membekas dan selalu diingat oleh rakyat Indonesia dengan nama Peristiwa G 30 S / PKI. PKI yang dari awal berhasil mengambil simpati Ir.Soekarno merasa terlindungi karena Ir. Soekarno berkali-kali melakukan pembelaan dan menyatakan bahwa bukan PKI yang ada di belakang peristiwa memilukan sekaligus mengenaskan ini. Karena pembelaan inilah Ir. Soekarno inilah PKI tidak dibubarkan.
Tetapi tidak berselang lama Jenderal Besar A.H Nasution menemukan jawaban bahwa dalang dari peristiwa mengenaskan ini adalah PKI. Dan Jenderal Besar A.H Nasution bertekad akan menyingkirkan PKI dari peta perpolitikan Indonesia. Hal itu tidak berlangsung mulus karena Ir. Soekarno selalu membela PKI dengan alih-alih bahwa ideologi bangsa Indonesia adalah Nasakom. Jika PKI dibubarkan maka ideologi negara juga akan hancur.
Keganasan PKI dalam peritiwa G 30 S / PKI ini menimbulkan luka terdalam bagi seseorang yang menyaksikan peristiwa ini secara langsung. Salah satunya adalah puteri Brigadir Jenderal D.I Panjaitan yaitu Chaterine Panjaitan. Dia menuturkan kesaksiannya atas kejadian tersebut pada redaksi majalah Tempo edisi 6 Oktober 1984. Chaterine Panjaitan menuturkan bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 04.30 pada 1 Oktober 1965.
Kala itu ia tengah tidur di lantai dua kemudian terbangun karena teriakan dan tembakan. Lalu ia mengintip keluar jendela. Ternyata telah banyak tentara berseragam lengkap di pekarangan rumah. Dan diantaranya melompati pagar sambil membawa senapan. Panik, Catherine pun lari ke kamar ayahnya yang dicari pun sudah terjaga. Mereka pun berkumpul di ruang tengah dan sang ayah mondar-mandir di balkon sambil mengotak-atik senjatanya semacam senapan pendek.
Catherine sempat bertanya kepada ayahnya sebenarnya apa yang terjadi namun ayahnya tidak bergeming. Tembakan di lantai bawah semakin terdengar. Koleksi kristal ibu panjaitan, televisi dan barang lainnya hancur. Bahkan meja ikut terjungkal. Sebelum menyerahkan diri ke tentara, Brigadir Jenderal D.I Panjaitan menyuruh Catherine menelpon Samosir asisten Jenderal S Parman. Kemudian ia menghubungi Bambang, pacar sahabatnya tetapi pembicaraan belum selesai kabel telepon diputus.
Brigadir Jenderal D.I Panjaitan dengan berseragam lengkap turun ke ruang tamu. Seorang tentara menyuruh Brigadir Jenderal D.I Panjaitan untuk memberikan salam hormat tetapi Sang Jenderal mengacuhkan. Dan akhirnya dipukul dengan gagang senapan. Setelah itu kejadian bergulir cepat dan suara tembakan sebanyak dua kali menembus kepala Sang Jenderal. Lantai pun bersimbah darah. Dengan berlinang air mata  Catherine pun memanggil papinya lalu mengusapkan simbah darah papinya dari wajah hingga dada. Itulah kesaksian dari seorang putri Brigadir Jenderal D.I Panjaitan atas peristiwa G 30 S / PKI.
Peristiwa G 30 S / PKI 1965 membuat rakyat ketakutan apabila mendengar kata-kata PKI dan komunisme. Mereka menganggap PKI adalah pejagal, penjahat, dan segala yang keji ada di dalamnya. Hingga muncul sebuah pernyataan “Komunis Pantas Mati”. Dibalik dukungan rakyat terhadap pemusnahan PKI tidak didukung pengetahuan luas rakyat mengapa mereka harus memusnahkan PKI. Kebanyakan dari rakyat apabila ditanyai apa sebab mereka mengutuk PKI jawabannya adalah tidak tahu.
Yang jelas bagi mereka PKI memang pantas dibenci dan dimusnahkan. PKI sendiri tidak hanya berkembang di Indonesia tetapi juga di Cina. Dan di Indonesia sendiri PKI berkembang dengan pesat bahkan menjadi yang terbesar. PKI tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia karena PKI dasarnya adalah ideologi komunisme yang anti Tuhan. Dimana tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Indonesia terdiri dari beragam agama meskipun begitu tetap bersatu dalam Ketuhanan Yang Maha Esa. Jika ideologi komunis itu diterapkan di Indonesia maka sia-sialah perjuangan pahlawan kita yang telah mengorbankan segalanya demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa G 30 S / PKI kendati berumur pendek mempuyai dampak sejarah yang penting bagi sejarah Indonesia.
Generasi bangsa saat ini haruslah lebih waspada terhadap gerakan PKI yang terselubung. Mereka harusnya tidak hanya sekedar mengutuk tanpa mengetahui alasan yang pasti. Karena jika hal itu terjadi pikiran mereka bisa menjadi bumerang bagi keutuhan NKRI. Tentulah orang Indonesia yang merupakan dulunya anggota PKI bisa memanfaatkan ini dengan cara mengubah alur sejarah yang sebenarnya. Mengganti dengan manipulasi sejarah mereka. Generasi muda yang tidak paham atau hanya ikut-ikutan membenci PKI tanpa alasan yang benar berdasar sejarah silam, bisa terubah paradigmanya dengan pengubahan alur cerita yang ada.
Pendidikan mengenai anti PKI seharusnya digalakkan lagi karena tidak menutup kemungkinan di zaman yang serba modern ini, dimanfaatkan oleh oknum-oknum PKI untuk mempersiapkan kebangkitan mereka. Dan merencanakan peristiwa yang lebih besar lagi. Kebangkitan PKI sudah mulai terasa di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid dengan adanya wacana bahwa Presiden Abdurrahman akan meminta maaf kepada PKI namun hal itu tidak terlaksana karena FPI menurunkan 10.0000 laskar untuk mengepung Istana Presiden dalam rangka anti PKI di Jakarta.
Wacana itu pun muncul lagi di pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono bahkan juga sempat adanya pengajuan dan pembahasan RUU KKR ( Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi ) di DPR RI yang kental dengan adanya pemutihan PKI. Namun, hal itu menemui kegagalan lagi karena adanya penolakan keras dari ormas dan orsospol Islam di DPR RI. Dua kejadian di atas membuktikan bahwa PKI sewaktu-waktu bisa bangkit kembali.
Untuk menghalangi PKI bangkit kembali di Indonesia seharusnya ditumbuhkan kesadaran dimulai dari pendidikan tingkat dasar hingga tingkat menengah. Dengan diadakannya kembali kurikulum mengenai sejarah pengkhianatan PKI seperti pada zaman Orde Baru. Sehingga sikap anti PKI dengan mengetahui sejarah yang sebenarnya bukan hanya sekedar ikut-ikutan terlembagakan dalam sikap dan kepribadian rakyat Indonesia. Selain melalui metode pendidikan, langkah menghalangi kebangkitan PKI juga bisa melalui media hiburan secara audio visual semisal televisi. Seperti di tahun 1980-an hingga tahun 1990-an TVRI setiap tahunnya selalu menayangkan film G 30 S / PKI sehingga disaksikan secara luas dan rutin tiap tahunnya.
Masa reformasi merupakan masa yang sangat diharapkan karena adanya kebebasan dalam menyuarakan aspirasi. Namun, masa ini juga masa yang bisa menjadi senjata untuk mengulang peristiwa kelam di masa sejarah. Apalagi kurikulum mengenai sejarah pengkhianatan PKI sudah tidak ada lagi sehingga generasi muda yang menikmati pendidikan era ini tidak tahu menahu tentang kiprah kekejaman PKI di masa silam. Bahkan yang memprihatinkan mulai bermunculan buku-buku yang memposisikan PKI sebagai pahlwan yang luar biasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Inilah pentingnya mengapa anti PKI harus digelorakan kembali agar sejarah yang pahit tidak terulang kembali. Jayalah Negeriku, Indonesia.





DAFTAR PUSTAKA
Rhoma Dwi Aria Y, Fiktif Sejarah, Sejarah Fiktif, Istoria, vol. 2 nomor
1, September 2006, hlm.121.
 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah,   Yogyakarta: Bentang Budaya,
1955, hlm.13.
Dwi Pratomo Putranto, Militer dan Kekuasaan: Puncak-puncak Krisis
Hubungan Sipil-Militer di Indonesia. Yogyakarta: Narasi, 2005, hlm. 2.
Jenkins, David. Soeharto dan Barisan Jenderal ORBA, Rezim Militer
Indonesia 1975-1983. Jakarta: Komunitas Bambu, 2010, hlm. 279.
Darmawan, Sukarno Memilih untuk Tenggelam agar Suharto Muncul, Bandung: Hikayat Dunia, 2008, hlm. 129.
A.H Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas. Jilid 5; Kenangan Masa
Orde Lama, Jakarta: Haji Masagung, 1986, hlm. 145(T.N), Saksi dan Pelaku Gestapu: Pengakuan Para Saksi dan Pelaku
Sejarah Gerakan 30 September PKI, Yogyakarta: Media Pressindo, 2000, hlm.
234.
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar