Rabu, 23 Desember 2015
Rabu, 16 September 2015
LAMPIRAN
LAMPIRAN
SUASANA DI PEMAKAMAN
BRIGJEN D.I. PANJAITAN
DAFTAR KORBAN KEGANASAN PKI TAHUN 1948
YANG GUGUR DI DESA KRESEK
PKI BANGKIT, BAHAYA MENGANCAM
PKI
( Partai Komunis Indonesia ) di awal kemunculannya sebelum kemerdekaan
Indonesia disambut baik dan disanjung oleh rakyat Indonesia. Tetapi sebelum
akhirnya Ir. Soekarno memberikan dukungan kepada PKI, Ir. Soekarno sempat
mengutuknya karena peristiwa Madiun Affair. Madiun Affair adalah konflik
kekerasan yang terjadi di Jawa Timur antara pemberontak komunis PKI dan TNI.
Hal
ini di picu dengan adanya proklamasi berdirinya Negara Republik Soviet
Indonesia oleh Muso dan Menteri Pertahanan saat itu Amir Syariffudin pada
tanggal 18 September 1948. Tetapi 10 tahun kemudian Ir. Soekarno melindungi PKI
karena ideologinya sejalan yaitu anti imperialisme atau anti barat. Bahkan oleh
Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno dijadikan dasar Negara Indonesia dengan
nama Nasakom. Sebenarnya banyak pihak yang tidak setuju dengan ide dari
Ir.Soekarno tersebut. Karena sama saja Indonesia memproklamirkan diri sebagai
bagian dari Blok Timur.
Karena mendapat kepercayan penuh dari Ir.
Soekarno. PKI pun memulai aksinya dengan penuh keyakinan. Sehingga PKI di
Indonesia menjadi kekuatan yang mendominasi sejajar dengan kekuatan Presiden RI
dan kekuatan TNI AD. Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia untuk menarik
simpati lebih dari rakyat Indonesia PKI menunjukkan sikap radikal kepada
pemerintahan Belanda sebagai bentuk anti penjajahan Belanda. Selain itu PKI
dalam memulai pergerakannya di Indonesia selalu mengagung-agungkan bahwa ia
adalah partai yang peduli rakyat yang tertindas.
Tetapi hal itu tidak berlangsung lama apalagi
setelah Indonesia merdeka. Karena setelah mendapatkan kepercayaan penuh dari
rakyat. PKI pun masuk dalam pemerintahan. Banyak menteri-menteri di Kabinet
Orde Lama Ir. Soekarno adalah kaki tangan dari PKI. Dan yang membuat miris
adalah mayoritas kaki tangan PKI tersebut adalah orang-orang Indonesia, mereka
merongrong keutuhan negaranya sendiri.
Kinerja
PKI semakin lama sudah tidak mencerminkan sebagai pejuang aspirasi rakyat lagi.
PKI hanya fokus bagaimana menerapkan ideologi mereka sepenuhnya di Indonesia
tanpa ada yang menggugat mereka. Mereka pun mengeluarkan isu bahwa Jenderal-Jenderal besar bekerja sama
dengan pihak Amerika Serikat untuk mengkudeta pemerintahan.
Ir.Soekarno
yang mendengar hal itu sudah pasti khawatir tetapi dengan sigap Panglima Besar
TNI A.H. Nasution menjelaskan bahwa TNI tetap akan loyal kepada Presiden.
Meyakinkan Ir.Soekarno bahwa TNI tumbuh dalam suasana memenuhi tuntutan perjuangan
yang tidak pernah berhenti yang menjalankan fungsi pertahanan dan keamanan atas
dasar tanggung jawab dari seluruh rakyat, bukan hanya dari kalangan intern
tentara. Usaha PKI untuk menyingkirkan TNI tidak berhenti disitu bahkan mereka
merencanakan kejahatan yang keji yaitu penculikan dan pembunuhan beberapa
Jenderal Besar Angkatan Darat. Rencana tersebut dikomandoi oleh D.N Aidit.
Dimana penculikan dan pembunuhan tersebut merupakan sebuah ironi karena menimpa
orang-orang yang paling bertanggung jawab atas keselamatan negara. Penculikan
tersebut serempak terhadap enam Jenderal Angkatan Darat, yaitu : Jenderal Ahmad
Yani, Mayor Jenderal Suprapto, Mayor Jenderal Haryono M.T , Mayor Jenderal S
Parman, Brigadir Jendreral Sutoyo Siswomiharjo, dan Brigadir Jenderal D.I
Panjaitan.
Jenderal
Besar A.H Nasution satu-satunya yang berhasil meloloskan diri tetapi putrinya
Ade Irma Suryani dan ajudannya Pierre Tendean gugur dalam peristiwa yang
memilukan itu. Peristiwa tersebut masih sangat membekas dan selalu diingat oleh
rakyat Indonesia dengan nama Peristiwa G 30 S / PKI. PKI yang dari awal
berhasil mengambil simpati Ir.Soekarno merasa terlindungi karena Ir. Soekarno
berkali-kali melakukan pembelaan dan menyatakan bahwa bukan PKI yang ada di
belakang peristiwa memilukan sekaligus mengenaskan ini. Karena pembelaan inilah
Ir. Soekarno inilah PKI tidak dibubarkan.
Tetapi
tidak berselang lama Jenderal Besar A.H Nasution menemukan jawaban bahwa dalang
dari peristiwa mengenaskan ini adalah PKI. Dan Jenderal Besar A.H Nasution
bertekad akan menyingkirkan PKI dari peta perpolitikan Indonesia. Hal itu tidak
berlangsung mulus karena Ir. Soekarno selalu membela PKI dengan alih-alih bahwa
ideologi bangsa Indonesia adalah Nasakom. Jika PKI dibubarkan maka ideologi
negara juga akan hancur.
Keganasan
PKI dalam peritiwa G 30 S / PKI ini menimbulkan luka terdalam bagi seseorang
yang menyaksikan peristiwa ini secara langsung. Salah satunya adalah puteri
Brigadir Jenderal D.I Panjaitan yaitu Chaterine Panjaitan. Dia menuturkan
kesaksiannya atas kejadian tersebut pada redaksi majalah Tempo edisi 6 Oktober
1984. Chaterine Panjaitan menuturkan bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar
pukul 04.30 pada 1 Oktober 1965.
Kala
itu ia tengah tidur di lantai dua kemudian terbangun karena teriakan dan
tembakan. Lalu ia mengintip keluar jendela. Ternyata telah banyak tentara
berseragam lengkap di pekarangan rumah. Dan diantaranya melompati pagar sambil
membawa senapan. Panik, Catherine pun lari ke kamar ayahnya yang dicari pun
sudah terjaga. Mereka pun berkumpul di ruang tengah dan sang ayah mondar-mandir
di balkon sambil mengotak-atik senjatanya semacam senapan pendek.
Catherine
sempat bertanya kepada ayahnya sebenarnya apa yang terjadi namun ayahnya tidak
bergeming. Tembakan di lantai bawah semakin terdengar. Koleksi kristal ibu
panjaitan, televisi dan barang lainnya hancur. Bahkan meja ikut terjungkal.
Sebelum menyerahkan diri ke tentara, Brigadir Jenderal D.I Panjaitan menyuruh
Catherine menelpon Samosir asisten Jenderal S Parman. Kemudian ia menghubungi
Bambang, pacar sahabatnya tetapi pembicaraan belum selesai kabel telepon
diputus.
Brigadir
Jenderal D.I Panjaitan dengan berseragam lengkap turun ke ruang tamu. Seorang
tentara menyuruh Brigadir Jenderal D.I Panjaitan untuk memberikan salam hormat
tetapi Sang Jenderal mengacuhkan. Dan akhirnya dipukul dengan gagang senapan.
Setelah itu kejadian bergulir cepat dan suara tembakan sebanyak dua kali
menembus kepala Sang Jenderal. Lantai pun bersimbah darah. Dengan berlinang air
mata Catherine pun memanggil papinya
lalu mengusapkan simbah darah papinya dari wajah hingga dada. Itulah kesaksian
dari seorang putri Brigadir Jenderal D.I Panjaitan atas peristiwa G 30 S / PKI.
Peristiwa
G 30 S / PKI 1965 membuat rakyat ketakutan apabila mendengar kata-kata PKI dan
komunisme. Mereka menganggap PKI adalah pejagal, penjahat, dan segala yang keji
ada di dalamnya. Hingga muncul sebuah pernyataan “Komunis Pantas Mati”. Dibalik
dukungan rakyat terhadap pemusnahan PKI tidak didukung pengetahuan luas rakyat
mengapa mereka harus memusnahkan PKI. Kebanyakan dari rakyat apabila ditanyai
apa sebab mereka mengutuk PKI jawabannya adalah tidak tahu.
Yang
jelas bagi mereka PKI memang pantas dibenci dan dimusnahkan. PKI sendiri tidak
hanya berkembang di Indonesia tetapi juga di Cina. Dan di Indonesia sendiri PKI
berkembang dengan pesat bahkan menjadi yang terbesar. PKI tidak cocok untuk
diterapkan di Indonesia karena PKI dasarnya adalah ideologi komunisme yang anti
Tuhan. Dimana tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Indonesia
terdiri dari beragam agama meskipun begitu tetap bersatu dalam Ketuhanan Yang
Maha Esa. Jika ideologi komunis itu diterapkan di Indonesia maka sia-sialah
perjuangan pahlawan kita yang telah mengorbankan segalanya demi tegaknya Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa G 30 S / PKI kendati berumur pendek
mempuyai dampak sejarah yang penting bagi sejarah Indonesia.
Generasi
bangsa saat ini haruslah lebih waspada terhadap gerakan PKI yang terselubung.
Mereka harusnya tidak hanya sekedar mengutuk tanpa mengetahui alasan yang
pasti. Karena jika hal itu terjadi pikiran mereka bisa menjadi bumerang bagi
keutuhan NKRI. Tentulah orang Indonesia yang merupakan dulunya anggota PKI bisa
memanfaatkan ini dengan cara mengubah alur sejarah yang sebenarnya. Mengganti
dengan manipulasi sejarah mereka. Generasi muda yang tidak paham atau hanya
ikut-ikutan membenci PKI tanpa alasan yang benar berdasar sejarah silam, bisa
terubah paradigmanya dengan pengubahan alur cerita yang ada.
Pendidikan
mengenai anti PKI seharusnya digalakkan lagi karena tidak menutup kemungkinan
di zaman yang serba modern ini, dimanfaatkan oleh oknum-oknum PKI untuk
mempersiapkan kebangkitan mereka. Dan merencanakan peristiwa yang lebih besar
lagi. Kebangkitan PKI sudah mulai terasa di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid
dengan adanya wacana bahwa Presiden Abdurrahman akan meminta maaf kepada PKI
namun hal itu tidak terlaksana karena FPI menurunkan 10.0000 laskar untuk
mengepung Istana Presiden dalam rangka anti PKI di Jakarta.
Wacana
itu pun muncul lagi di pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono bahkan juga sempat
adanya pengajuan dan pembahasan RUU KKR ( Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi )
di DPR RI yang kental dengan adanya pemutihan PKI. Namun, hal itu menemui
kegagalan lagi karena adanya penolakan keras dari ormas dan orsospol Islam di
DPR RI. Dua kejadian di atas membuktikan bahwa PKI sewaktu-waktu bisa bangkit
kembali.
Untuk
menghalangi PKI bangkit kembali di Indonesia seharusnya ditumbuhkan kesadaran
dimulai dari pendidikan tingkat dasar hingga tingkat menengah. Dengan
diadakannya kembali kurikulum mengenai sejarah pengkhianatan PKI seperti pada
zaman Orde Baru. Sehingga sikap anti PKI dengan mengetahui sejarah yang
sebenarnya bukan hanya sekedar ikut-ikutan terlembagakan dalam sikap dan
kepribadian rakyat Indonesia. Selain melalui metode pendidikan, langkah
menghalangi kebangkitan PKI juga bisa melalui media hiburan secara audio visual
semisal televisi. Seperti di tahun 1980-an hingga tahun 1990-an TVRI setiap
tahunnya selalu menayangkan film G 30 S / PKI sehingga disaksikan secara luas
dan rutin tiap tahunnya.
Masa
reformasi merupakan masa yang sangat diharapkan karena adanya kebebasan dalam
menyuarakan aspirasi. Namun, masa ini juga masa yang bisa menjadi senjata untuk
mengulang peristiwa kelam di masa sejarah. Apalagi kurikulum mengenai sejarah
pengkhianatan PKI sudah tidak ada lagi sehingga generasi muda yang menikmati
pendidikan era ini tidak tahu menahu tentang kiprah kekejaman PKI di masa
silam. Bahkan yang memprihatinkan mulai bermunculan buku-buku yang memposisikan
PKI sebagai pahlwan yang luar biasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Inilah pentingnya mengapa anti PKI harus digelorakan kembali agar sejarah
yang pahit tidak terulang kembali. Jayalah Negeriku, Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Rhoma
Dwi Aria Y, Fiktif Sejarah, Sejarah Fiktif, Istoria, vol. 2 nomor
1,
September 2006, hlm.121.
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Bentang Budaya,
1955,
hlm.13.
Dwi
Pratomo Putranto, Militer dan Kekuasaan: Puncak-puncak Krisis
Hubungan
Sipil-Militer di Indonesia. Yogyakarta: Narasi, 2005, hlm. 2.
Jenkins,
David. Soeharto dan Barisan Jenderal ORBA, Rezim Militer
Indonesia
1975-1983. Jakarta: Komunitas Bambu, 2010, hlm. 279.
Darmawan,
Sukarno Memilih untuk Tenggelam agar Suharto Muncul, Bandung: Hikayat Dunia,
2008, hlm. 129.
A.H
Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas. Jilid 5; Kenangan Masa
Orde
Lama, Jakarta: Haji Masagung, 1986, hlm. 145(T.N), Saksi dan Pelaku Gestapu: Pengakuan
Para Saksi dan Pelaku
Sejarah
Gerakan 30 September PKI, Yogyakarta: Media Pressindo, 2000, hlm.
234.
Langganan:
Postingan (Atom)















